Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bitcoin Mulai Terpisah dari Likuiditas Global M2 : Apa yang Terjadi di 2025?


Di dunia kripto yang dinamis, Bitcoin (BTC) sering disebut sebagai "barometer likuiditas" karena harganya historically sangat berkorelasi dengan likuiditas global—ukuran jumlah uang yang beredar di ekonomi dunia, seperti M2 dari bank sentral utama (Fed AS, ECB Eropa, PBoC China, dan BoJ Jepang). Namun, sepanjang tahun 2025, terutama menjelang akhir tahun, muncul fenomena menarik: Bitcoin tampaknya mulai "terpisah" atau decoupled dari tren likuiditas global ini. Pernyataan seperti "Bitcoin has never been this detached from global liquidity" menjadi viral di kalangan analis dan komunitas kripto. Apa artinya ini bagi pasar, dan apakah ini sinyal bahaya atau peluang? Mari kita bahas secara mendalam.

Latar Belakang: Korelasi Historis Bitcoin dan Likuiditas GlobalSecara historis, Bitcoin memiliki korelasi tinggi dengan likuiditas global, mencapai sekitar 0.94 dalam jangka panjang. Saat bank sentral menyuntikkan likuiditas—misalnya melalui penurunan suku bunga atau program quantitative easing (QE)—uang ekstra ini sering mengalir ke aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto. Contohnya, selama pandemi COVID-19, lonjakan M2 global mendorong Bitcoin mencapai all-time high (ATH) baru.Likuiditas global diukur dari total M2 bank sentral besar, yang pada 2025 terus meningkat meskipun ada kekhawatiran inflasi dan tarif perdagangan. Namun, mulai sekitar Maret-April 2025, Bitcoin mulai menunjukkan divergensi: likuiditas naik, tapi harga BTC justru sideways atau bahkan koreksi, turun ke kisaran $80.000–$90.000 menjelang akhir tahun. Ini adalah decoupling terbesar dalam sejarah Bitcoin, di mana harga tidak lagi mengikuti tren likuiditas seperti biasanya. Apa yang Terjadi di 2025: Fakta dan DataTahun 2025 menjadi tahun yang penuh gejolak bagi aset digital. Meskipun likuiditas global melonjak—didorong oleh pelonggaran moneter dari Fed dan stimulus China—Bitcoin gagal "catch up". Pada paruh kedua 2025, M2 global terus naik, tapi BTC mengalami fase korektif, dengan harga jatuh ke level terendah $74.000 pada Desember. Analis dari VanEck mencatat bahwa pullback Oktober 2025 adalah "reset mid-cycle" yang didorong likuiditas, di mana leverage pasar dinormalisasi dan aktivitas on-chain meningkat, tapi harga tetap tertahan. Di platform X (sebelumnya Twitter), diskusi ini meledak. Banyak post menunjukkan chart divergensi, dengan Bitcoin terlihat "mispriced" dan undervalued dibandingkan likuiditas. Misalnya, analis macro menyoroti bahwa sejak April 2025, M2 naik tapi BTC gagal mengikuti karena likuiditas "terjebak" di saluran aman seperti deposito bank dan obligasi pemerintah, bukan mengalir ke aset berisiko. Ini kontras dengan gold, yang justru rally sebagai aset safe-haven, sementara kripto tertinggal.
Faktor Kunci Decoupling 2025
Deskripsi
Dampak pada BTC
Lonjakan M2 Global
M2 naik 8% YoY ke $123 triliun, tapi aliran ke tech stocks bukan kripto.
Harga BTC sideways di $80K–$90K.
Leverage Pasar Tinggi
Open interest BTC capai $19B wipeout, funding collapse.
Koreksi tajam, likuidasi massal.
Faktor Eksternal
Tarif perdagangan & inflasi goods, repo stress, SOFR tinggi.
Likuiditas tidak "bocor" ke kripto.
Rotasi Institusional
ETF BTC inflow $25B, tapi outflow gold $2.8B; institusi pilih BTC sebagai reserve.
Potensi re-sync jika stress mereda.
Alasan Utama DecouplingBeberapa faktor menjelaskan kenapa Bitcoin "terpisah":
  1. Kendala Likuiditas Internal: Meskipun M2 naik, uang tidak mencapai BTC karena keterbatasan balance sheet bank, scarcity collateral, dan tingginya SOFR (secured overnight financing rate). Likuiditas mengalir ke aset aman seperti Treasuries atau saham AI/tech.
  2. Perubahan Profil Investor: Bitcoin semakin dilihat sebagai "digital gold" atau reserve asset oleh institusi (seperti Harvard yang alokasikan $443 juta), sementara altcoins tetap spekulatif. Ini memutus korelasi dengan "crypto market" secara keseluruhan.
  3. Volatilitas dan Leverage: Pasar BTC penuh leverage, dengan likuidasi terbesar sejarah pada Oktober 2025. Sentimen bearish mendominasi, meskipun fundamental seperti halving 2024 mendukung scarcity.
  4. Faktor Makro Global: Tarif perdagangan Trump-era dan inflasi mendorong bank sentral hati-hati, membuat likuiditas "terkunci" di sektor aman.
Beberapa analis melihat ini sebagai "decoupling sementara", bukan permanen. Di sisi lain, ada yang bearish, menyebutnya sinyal akhir "magic effect" Bitcoin sebagai alternatif dollar. Prediksi Masa Depan: Pump Besar atau Krisis Berkelanjutan?Banyak analis optimis bahwa gap ini akan tertutup. Dengan bank sentral easing di 2026, Bitcoin bisa "pump big" ke $143.000–$200.000, didorong oleh siklus halving dan re-alokasi global wealth (bahkan 0.02% dari $640 triliun aset dunia bisa dorong market cap BTC naik dua kali lipat). Namun, jika stress funding berlanjut—seperti dealer inventory tinggi atau FX basis melebar—decoupling bisa bertahan, membuat BTC lebih bergantung pada fundamental sendiri. Prediksi dari Citi menarget $143.000 dalam setahun jika easing Fed berlanjut, sementara VanEck melihat bull cycle 2025-2026 didorong likuiditas. Komunitas X sepakat: BTC terlihat undervalued, dan pump segera. KesimpulanDecoupling Bitcoin dari likuiditas global di 2025 adalah pergeseran signifikan, menandakan matangnya pasar kripto di mana BTC tidak lagi sekadar "ikut-ikutan" tren makro. Ini bisa jadi peluang bagi investor jangka panjang, tapi juga peringatan volatilitas. Seperti kata analis, "the greatest wealth transfer" sedang terjadi—posisi sekarang atau jadi likuiditas bagi yang lain. Selalu DYOR (do your own research) dan ingat, pasar kripto penuh ketidakpastian.