Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

IPO Superbank (SUPA) Oversubscribed: Antusiasme Pasar Dorong Harga Saham Rp 635 per Lembar


Di tengah gejolak pasar modal Indonesia yang dipenuhi ekspektasi akhir tahun, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mencuri perhatian dengan Initial Public Offering (IPO) yang mengalami kelebihan permintaan luar biasa atau oversubscribed. Meskipun harga ditetapkan di rentang tengah Rp 635 per saham—bukan batas atas seperti yang banyak diantisipasi—antusiasme investor ritel dan institusional menandakan potensi pertumbuhan jangka panjang bagi bank digital hasil kolaborasi Grab Holdings dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) ini.

Latar Belakang Superbank dan Strategi IPO

Superbank, yang lahir dari merger aset digital Grab dan EMTK pada 2023, telah menunjukkan turnaround impresif. Dari kerugian bersih Rp 1,2 triliun pada 2023, perusahaan mencatat laba bersih Rp 450 miliar di paruh pertama 2025, didorong oleh pertumbuhan pengguna aktif mencapai 15 juta dan penyaluran kredit digital Rp 25 triliun. IPO ini menjadi langkah strategis untuk ekspansi, dengan target dana segar hingga Rp 2,79 triliun dari penawaran 4,406 miliar saham baru (13% dari modal pasca-IPO).Proses bookbuilding (25 November - 1 Desember 2025) langsung menunjukkan minat tinggi. Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, mengonfirmasi bahwa permintaan melebihi pasokan secara signifikan. "Oversubscribe. Oh iya. Semuanya oversubscribe," ujarnya dengan nada optimis, meski tidak merinci rasio pastinya. Hal ini melebihi ekspektasi dibanding IPO kompetitor seperti PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), yang juga jumbo tapi kurang hype.Harga final Rp 635 berada di tengah rentang awal Rp 525 - Rp 695, mencerminkan mekanisme pasar yang seimbang. "Itu supply and demand ya. Demand-nya ada di situ," tambah Oki. Meski tak tembus atas, analis Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menilai valuasi SUPA tetap kompetitif dengan PBV (Price to Book Value) di bawah rekan sejawat seperti Bank Jago (ARTO) atau Allo Bank (BBHI).

Detail Penawaran dan Penjatahan Saham

IPO SUPA diklasifikasikan sebagai Golongan V oleh OJK (nilai >Rp 1 triliun), sehingga penjatahan mengikuti aturan baru SEOJK No. 15/2025 untuk demokratisasi akses ritel. Dalam kondisi normal, alokasi penjatahan terpusat (pooling) minimal 2,5% dari total saham. Namun, jika oversubscribed ≥25x—yang kemungkinan besar terjadi berdasarkan bookbuilding—porsi ritel otomatis naik menjadi 12,5%, dengan rasio 1:1 di pooling.

Aspek Penawaran
Detail
Jumlah Saham Ditawarkan
4.406.612.300 lembar (13% modal pasca-IPO)
Harga Per Saham
Rp 635 (tengah rentang Rp 525-695)
Dana Target
Rp 2,79 triliun
Penggunaan Dana
70% modal kerja (penyaluran kredit), 30% belanja modal (teknologi & ekspansi)
Masa Penawaran Umum
10-15 Desember 2025
Tanggal Listing BEI
17 Desember 2025
Underwriter Utama
Mandiri Sekuritas (58,67%), Trimegah Sekuritas (37,60%)
Penjatahan menggunakan skema fixed allotment (untuk institusi) dan pooling (ritel), dengan underwriter seperti CLSA, Sucor, Bahana, dan Korea Investment siap beli siaga via full commitment. Ini memastikan IPO sukses meski oversubscribed, meski investor ritel berisiko dapat alokasi parsial atau nol jika permintaan ekstrem.

Antusiasme Pasar dan Reaksi Komunitas

Sentimen positif merebak di media sosial. Di X (Twitter), analis Surya Herry (@cukhurukuque) menyoroti turnaround SUPA dan oversubscribed yang melebihi RLCO, meski underwriter bertambah dua—dilihat sebagai sinyal positif untuk likuiditas. "IPO nya pun oversubscribed melebihi RLCO.... Yuk kita bahas," tulisnya, memicu diskusi dengan 295 likes dan 34 ribu views. Di Stockbit, komunitas ramai: "Semoga yang ikut IPO bisa cuan lebar," dengan prediksi harga first day hingga Rp 1.000, didorong dukungan "deal tersembunyi" dengan Sinarmas Group.Analis memproyeksikan pop harga 20-30% di hari pertama, sejalan tren IPO bank digital seperti ARTO (naik 50% pasca-listing 2021). Namun, valuasi murah ini jadi daya tarik utama, dengan PER (Price to Earnings Ratio) diprediksi 15x—jauh di bawah rata-rata sektor 20x.

Risiko dan Prospek ke Depan

Oversubscribed menjanjikan debut kuat, tapi volatilitas IHSG akhir 2025 (dipengaruhi suku bunga BI dan geopolitik) bisa jadi ancaman. Selain itu, kompetisi ketat dari Bank Neo Commerce (BBYB) dan regulasi OJK yang ketat soal bank digital menuntut eksekusi cepat. CEO Superbank, David Soetanto, yakin: "Dana IPO akan percepat inovasi seperti AI lending dan super app integration dengan Grab."Dengan listing 17 Desember, SUPA berpotensi jadi "unicorn" baru BEI. Bagi investor ritel, ini peluang emas—tapi ingat, oversubscribed berarti saingan ketat. Pantau prospektus di BEI untuk detail allotment.


Disclaimer: Ini bukan rekomendasi investasi. Lakukan riset sendiri (DYOR) dan pertimbangkan risiko pasar.